blog untuk menyelami dalamnya dunia


Cuaca di Selat Inggris memburuk sejak awal Juni 1944. Eisenhower dihadapkan pada pilihan sulit. Apakah ia harus memulai serangan yang mungkin saja membahayakan jutaan nyawa serdadu Sekutu akibat cuaca buruk atau menunda serangan namun kehilangan unsur kejutan yang menjadi satu keuntungan vital dalam serangan.

Namun pada 5 Juni, saat badai berlalu dan laut sedikit tenang, Eisenhower akhirnya mengambil keputusan final yang menentukan.

“Ok, let’s go!” perintahnya untuk memulai D-Day Operation Overlord.

Maka satu serangan militer terbesar dalam sejarah umat manusia pun digelar. Seluruh kapal yang sudah dimuati peralatan tempur dan tentara pendarat itu pun bergerak dari masing-masing pelabuhan di Inggris: Darthmouth (pasukan AS), Portland (Pasukan AS), Southampton (pasukan Inggris), Portsmouth (pasukan Kanada), dan Shoreham (Pasukan Inggris). Masing-masing menuju pantai sararannya Utah Beach, Pointe du Hoc, dan Omaha Beach (ketiganya target serangan AS), Gold Beach (target Inggris), Juno Beach (target Kanada), Sword Beach (target Inggris) di garis pantai Normandia, wilayah barat laut Perancis yang diduduki Jerman.Lintas Udara

Sebelum serangan sesungguhnya pada pagi 6 Juni 1944 dimulai, di malam yang gelap itu empat divisi pasukan lintas udara (Airborne Division) Sekutu dari satuan US 82nd (All-American), US 101st (Screaming Eagles), serta British 6th dan British 1st diberangkatkan dari beberepa pangkalan udara di Inggris dengan ratusan pesawat terbang angkut C-47 dan DC-3 plus ratusan glider menuju semenanjung.

Operasi lintas udara ini untuk mengamankan beberapa sektor di belakang garis pertahanan pantai musuh untuk memudahkan pergerakan pasukan amfibi yang mendarat dari pantai Normandia.

Di bawah hujan tembakan artileri antiserangan udara AAA guns Jerman dan tembakan gencar senapan mesin MG 32/42, ke 15.500 pasukan lintas udara AS dan 7.900 pasukan lintas udara Inggris itu mendarat di berbagai titik yang sangat dekat dengan garis pertahanan belakang Jerman.

Operasi lintas udara ini sangat kacau dan pendaratan terjadi di luar landing zone (zona pendaratan) yang sudah ditentukan, sehingga membutuhkan waktu berjam-jam untuk konsolidasi pasukan dan bergerak ke titik pendaratan yang seharusnya.Begitupun, seluruh pasukan lintas udara ini berhasil mencapai target walau sedikit terlambat dan mengalami pukulan berat dari Jerman.

Pendaratan Amfibi

Subuh 6 Juni 1944, perairan Pantai Normandia dipenuhi ribuan kapal Sekutu. Pemandangan ini mengejutkan pasukan NAZI-Jerman yang mempertahankan garis pantai Normandia. Mereka masih kebingungan dan hampir tak percaya terhadap penglihatannya. Bagaimana mungkin selat Inggris itu kini bisa dipenuhi kapal berbagai jenis?

Pukul 03.00, bombardir dari udara dimulai Sekutu. Setelah belasan sortie pengeboman lewat udara sebagai serangan pembuka, meriam pertahanan pantai Jerman masih bungkam. Satuan-satuan pesawat pemburu dan patroli Jerman memang melakukan perlawanan, namun dengan mudah dipatahkan armada udara Sekutu.

Usai pengeboman udara, meriam-meriam kapal perusak Sekutu kembali menghujani pantai dan tebing Normandia. Getaran dan ledakan sambung menyambung membangunkan pasukan Jerman yang bertahan.

Di tengah kepanikan, pasukan Jerman mulai mengatur barisan dan mempersiapkan serangan sambutan. Mereka sadar bahwa serangan besar-besaran akan segera digelar. Setelah matahari terbit, kapal-kapal pendarat Sekutu mulai bergerak mendekati lima pantai sasaran di bawah perlindungan tembakan salvo dari kapal-kapal perusak.

Saat iring-iringan kapal pendarat pertama mulai mendekati tepi pantai, meriam pertahanan Jerman melakukan tembakan terarah. Menimbulkan kepanikan yang pada ribuan tentara infanteri dan marinir Sekutu yang menjadi ujung tombak sebagai pembuka jalan.

Di bawah hujan tembakan gencar meriam berat 155 mm dan meriam medium 75 mm Jerman, kapal-kapal pendarat yang sebagian di antaranya karam beserta awaknya, akhirnya memuntahkan pasukan-pasukan pendarat.

Gelombang pertama tentara yang menginjak pantai ini disambut tembakan gencar mortir dan senapan mesin berat MG 32/42 Jerman. Seluruh sarang senjata dan bunker meriam ini tersembunyi di sepanjang pantai dan tebing karang, menjadi senjata pembantai yang mengerikan. Pantai Normandia pun memerah, penuh jeritan, potongan tubuh… bau amis darah bercampur mesiu.

Namun gerak maju pasukan pendarat Sekutu terus mengalir dengan bantuan bombardir dari kapal perusak. Pasukan Jerman yang bertahan kewalahan. Amunisi mereka agaknya mulai habis. Tembakan meriam yang tadinya gencar kini hanya terdengar satu-satu, salak senapan mesin pun terdengar sporadis.

Gerak maju pasukan sekutu tak terbendung lagi. Saat matahari terbenam, pasukan pertahanan pantai Jerman yang terakhir akhirnya menyerah. Serangan amfibi berdarah itu membawa hasil gilang-gemilang. Serangan Normandia menjadi titik awal kekalahan Jerman di palagan Eropa. Sebelas bulan setelah pendaratan di Normandia, lewat pertempuran demi pertempuran berdarah, seluruh kekuatan Jerman di benua Eropa akhirnya menyerah pada Sekutu.(Berbagai sumber)

Comments on: "PENYERANGAN AMPHIBI TERBESAR SEPANJANG SEJARAH" (2)

  1. purwoko burhanudin said:

    jangan ada lagi perang dunia lagi …. damai untuk semua manusia di planet bumi ini

  2. indonesia kedua terbesar.setelah d day.80000 personil di daratkan di pantai irian barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: