blog untuk menyelami dalamnya dunia

Bogor tempo dulu


Bagi anda yang berdomisili di Bogor mungkin julukan Bogor kota hujan sudah tidak berlaku lagi saat ini mengingat Bogor saat ini yang memiliki cuaca sangat panas. Saya akan mengajak anda melihat suasana Kota Bogor atau lebih dikenal dengan nama Buitenzorg yang berarti “tanpa kekhawatiran”. Silakan buka hasil scan untuk melihat koleksi kartupos kuno dari kota ini.

stasiun Buitenzorg (kini Bogor) dibangun pada tahun 1881 untuk melayani jalur kereta api Batavia-Buitenzorg yang sudah beroperasi sejak 1873. Gedung stasiun adalah gedung panjang yang terdiri atas 3 bagian. Di tengahnya berada sebagian berlantai dua dengan angka 1881 pada dinding depan. Pada jaman kolonial Belanda bagian tersebut adalah ruang tunggu khusus Gubernur Jenderal. Sekarang menjadi ruang tunggu VIP. Di sebelah kanan ada bagian berlantai satu yang pada awalnya berfungsi sebagai Kantor Pos. Kini menjadi ruang kedatangan.

Kartupos diterbitkan Tio Tek Hong ini memperlihatkan bagian kiri dari gedung tersebut yaitu bagian Stasiun Buitenzorg. Kini menjadi ruang keberangkatan. Gedung tersebut bergaya arsitektur Neo Klasik. Tidak diketahui siapa arsiteknya. Pada dinding dapan terlihat atap teritis yang besar yang mengatapi tiga pintu. Fotografer berdiri di taman stasiun yang kini bernama Taman Ria Ade Irma Suryani. Pemandangan dari posisi fotografernya mengarah ke stasiun sekarang terhalang pagar dan pohon. Jalan didepan stasiun sekarang ditempati pasar ramai.

Kartupos ini yang diterbit Tio Tek Hong memperlihatkan kereta sado sedang menunggu penumpang di Jalan Tanjakan Empang, Buitenzorg (Bogor). Tanjakan berarti jalan yang naik ke atas. Empang berarti kolam ikan yang besar. Sebelum tahun 1872, kabupaten Bogor masih berada di Empang. Di sekitar sebuah kolam besar berada tempat tinggal keluarga bupati penghulu, di sebelah selatan alun-alun Empang (Sekarang juga disebut Lapangan Empang). Empang di depan rumah Bupati menjadi terkenal dan dipakai sebagai nama sampai saat ini.

Oleh pemerintah Hindia Belanda, daerah Empang dikhususkan bagi pemukiman orang-orang keturunan Arab. Di kartupos ini, kita melihat rumah yang mirip gaya cina. Sebenarnya, entah bagaimana caranya, ada ijin yang diberikan pemerintah kepada beberapa keluarga Cina yang diperbolehkan tinggal di luar daerah Pecinan, dan beberapa diantaranya tinggal di daerah Empang.

Sekarang ada warung namanya Soto Bogor Empang, belakang Lapangan Empang, yang menjual soto babat dan daging. Katanya soto ini enak banget. Buka pagi-pagi, mungkin pada siang sudah abis. Soalnya tempat ini ramai sekali. Jika anda mau main kesana, naik angkot 06 atau 13 dari terminal Bogor.

sumber : http://djawatempodoeloe.multiply.com/photos/album/254/BuitenzorgBogor_Tempo_Doeloe#photo=15.JPG

Comments on: "Bogor tempo dulu" (4)

  1. rudy natanegara said:

    saya terinspirasi .. buat bogor ku

  2. bangga melihat gunung salak tempo dulu,,,ternyata tak berubah sampai skrng,,,w salah satu dr skian ratus orang yg mendaki puncak gunung salak itu,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: