blog untuk menyelami dalamnya dunia

Kriptografi

Persandian sebagai sebuah kegiatan dan profesi, dilaksanakan oleh orang/personil sandi yang dikenal dengan sebutan Sandiman.

Definisi Sandiman yang dipergunakan dalam Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara no. 134/KEP/M.PAN/11/2003 tentang jabatan fungsional Sandiman dan angka kreditnya adalah :

pasal 1 : Sandiman adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh Kepala Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) untuk melakukan kegiatan persandian.

pasal 2 : Sandiman adalah pejabat fungsional yang berkedudukan sebagai pelaksana teknis dalam melakukan kegiatan persandian instansi pemerintah.

Dengan kata lain, Kepala Lemsaneg memberikan sertifikasi crypto-clearance (sertifikat sebagai tanda seseorang layak untuk melakukan pekerjaan persandian) kepada seorang PNS yang telah memenuhi standar dan syarat tertentu untuk melakukan kegiatan persandian di pemerintahan negara Republik Indonesia.

Sebagai sebuah profesi, maka Sandiman memiliki nilai-nilai dan etika yang dipergunakan dalam menjalani profesinya. Nilai-nilai itu dikenal dengan sebutan Etika Profesi Sandi atau Etos Sandi yang dirumuskan oleh Bapak Persandian Indonesia, dr Roebiono Kertopati. Penugasan dr. Roebiono Kertopati


Berpindahnya ibukota Negara Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta pada tanggal 4 Januari 1946 berdampak pada pindahnya segala kegiatan di berbagai Kementrian ke Yogyakarta, termasuk Kementrian Pertahanan. Salah satu bagian pada Kementrian Pertahanan yang memiliki tugas membuat laporan kritis mengenai sesuatu keadaan dan analisisnya yang tepat untuk keberhasilan operasi intelejen adalah Bagian B (bagian intelejen).

Pada tanggal 4 April 1946 pukul 10.00 WIB, Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifuddin memerintahkan dr. Roebiono Kertopati, seorang dokter di Kementrian Pertahanan Bagian B untuk membentuk badan pemberitaan rahasia yang disebut Dinas Code. Untuk mendukung pelaksanaan Dinas Code dalam mengkomunikasikan berita rahasia, pada saat yang sama dibangun sarana telekomunikasi berupa pemancara radio telegrafi. Saat itu, operasional Dinas Code menggunakan suatu sistem yang sangat sederhana dalam bentuk buku kode yang dikenal dengan “Buku Code C” terdiri dari 10.000 kata (dibuat sebanyak 6 rangkap) diawali untuk hubungan komunikasi pemberitaan rahasia antara Pemerintah RI di Yogyakarta dengan para pimpinan nasional di Jawa Barat (Tasikmalaya, Garut, Karawang, Banten, dan Cirebon), Jawa Timur (Jember, Jombang, Kediri, dan Mojokerto), Jawa Tengah (Solo, Purwokerto, Tegal), Sumatera (Pematang Siantar dan Bukit Tinggi), dan Jakarta.

Pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda melakukan Agresi Belanda I yang menimbulkan banyak pengorbanan, baik fisik maupun non fisik termasuk terganggunya hubungan luar negeri. Untuk menjaga agar hubungan RI dengan luar negeri tidak terputus, maka diutus Duta Besar pertama untuk India beserta staf Dinas Code untuk menangani pengamanan berita rahasia dari Perwakilan RI di New Delhi dan sejak itulah hubungan komunikasi berita rahasia antara perwakilan RI di New Delhi dan Pemerintah RI di Yogyakarta berjalan dengan baik melalui PTT dan RRI yang kemudian melua dengan Perwakilan RI di Singapura, London, Cairo dan PBB.

Sumber : Museum Sandi, Kompleks Museum Perjuangan
Jl. Kolonel Sugiyono No. 24 Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta

Comments on: "Kriptografi" (3)

  1. tyocentaury said:

    wah ternyata di indonesia juga ada y

  2. orang tak dikenal said:

    deka dian utami

  3. akhirnya dia kawin juga dengan endhy….huff!!!! terus cintaku pada deka piye????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: